Belajar, Humaniora dan Etik Dalam Kedokteran

Posted by

Belajar, Humaniora dan Etik Dalam Kedokteran
A.      PENGERTIAN HUMANIORA
Menurut bahasa latin, humaniora disebut artes liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika, retorika dan gramatika. Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika, estetika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama dan fenomenologi. Secara umum, humaniora dapat diartikan  sebuah disiplin akademik yang mempelajari kondisi manusia, menggunakan metode yang terutama analitik, kritikal, atau spekulatif, sebagaimana dicirikan dari sebagian besar pendekatan empiris alami dan ilmu sosial.
Humaniora merupakan studi yang memusatkan perhatiannya pada kehidupan manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, keunikan, humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif.  Dalam bidang humaniora rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran tentang suatu objek atas dasar dalil-dalil saja, tetapi juga hal-hal yang bersifat imajinatif, sebagai contoh: Leonardo da Vinci mampu menggambar sebuah lukisan yang mirip dengan bentuk helikopter jauh sebelum ditemukannya helikopter. Sumber : http://olimpiadehumaniora3.wordpress.com/about/.
B.       KEDUDUKAN HUMANIORA SEBELUM DAN SAAT PENDIDIKAN MODERN
Humaniora merupakan sebuah ilmu yang juga berubah-ubah seiring dengan perkembangan zaman. Berikut ini akan dijelaskan mengenai kedudukan humaniora sebelum dan saat pendidikan modern yang terjadi di Eropa dan Amerika menurut K. Bertens (2009 : 155-158).
1.      Sebelum Pendidikan Modern
Di universitas-universitas pertama di Eropa (sekitar abad ke-13), humaniora memainkan peran sentral. Saat itu humaniora di mengerti sebagai artes liberals atau the liberal arts yang di ajarkan dalam facultas Artium (the Faculty of Arts). (K. Bertens, 2009 : 155). Maksudnya adalah di universitas-universitas di Eropa pada masa itu menganggap bahwa humaniora memiliki kontribusi yang tinggi dalam setiap disiplin-disiplin ilmu, terutama di kota Paris. Semua mahasiswa harus menjalani pendidikan di Facultas Artium dulu sebelum diterima di fakultas lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa studi/ilmu humaniora menjadi tahap awal seluruh pendidikan tinggi.Pada masa itu, studi humaniora mempunyai ruang gerak yang luas dan dianggap sebagai studi penting yang harus dipelajari oleh pelajar pada masa tersebut.
2.      Saat Pendidikan Modern
Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi di zaman modern, jumlah fakultas di perguruan tinggi bertambah besar, jumlah program studi juga makin bertambah, dan sekaligus peranan humaniora semakin berkurang, sebab kini dengan humaniora dimengerti ilmu sejarah, filsafat, ilmu bahasa serta sastra, dan ilmu-limu budaya lain yang seharusnya dengan humaniora manusia bisa mengerti apa arti sebenarnya pernyataan “memanusiakan manusia”. Ruang gerak untuk mereka menjadi semakin sempit.
C.      KEDUDUKAN HUMANIORA DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, humaniora merupakan ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika, estetika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama dan fenomenologi. Memasuki zaman modern dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia berusaha mengikuti perkembangan tersebut. Dalam bidang pendidikan, Indonesia saat ini sedang bergerak naik dengan berbagai usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah dalam memajukan mutu pendidikan bangsa. Hal ini mendapatkan perhatian dari masyarakat dengan meningkatnya minat untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi (perguruan tinggi) dengan berbagai macam pilihan ilmu dan program studi yang ada. Namun, sayangnya, masyarakat cenderung memiliki anggapan bahwa kesuksesan hanya berpihak pada seseorang yang belajar atau mempelajari ilmu-ilmu eksak saja. Inilah mengapa humaniora mendapat pandangan miring oleh masyarakat. Berikut ini akan dijelaskan mengapa ilmu-ilmu humaniora kurang mendapat perhatian oleh masyarakat di Indonesia :
1.    Masih kuatnya pengaruh aliran positivistik . Seperti yang kita tahu, aliran filsafat positivistik
2.    Mengesampingkan ilmu-ilmu humaniora dalam berbagai aktivitas ilmiah bahkan dalam opini masyakarat. Tidak bisa kita tutupi kenyataan yang terjadi di dalam masyakarat seperti ekspektasi para orang tua agar anaknya kuliah di fakultas-fakultas ilmu eksak daripada mengambil ilmu humaniora. Kenyataan seperti inilah yang menyebabkan humaniora semakin tersisih di dalam pendidikan.
3.    Gagap teknologi (gaptek) dipandang lebih memalukan daripada gagap budaya (gaya) dan gagap kemanusiaan (gamas). Seseorang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi yang paling mutakhir dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Gagap budaya (gaya) terlihat dalam kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan alam pemikiran atau gagasan yang berkembang dalam kehidupan modern. Gagap kemanusiaan (gamas) terlihat pada sikap meremehkan dan tidak peduli dengan nasib manusia lainnya. Gagap kemanusiaan yang sering terjadi misalnya ketika banyak korban bencana yang sangat membutuhkan bantuan, seseorang tidak mau membantu bahkan bersikap tidak mau tahu akan kejadian tersebut.
4.    Rasa minder atau rendah diri yang dialami oleh orang-orang yang berkecimpung dalam ilmu humaniora menyebabkan lemahnya persaingan dalam perkembangan ilmu.
Berdasarkan sebab-sebab di atas, kita dapat mengerti mengapa ilmu humaniora mendapat pandangan yang negatif dibanding dengan ilmu eksak. Tersingkirnya humaniora di Indonesia juga disebabkan oleh sumber daya manusia yang menggeluti bidang humaniora kurang serius dan menjadikan bidang humaniora sebagai aktivitas sambilan yang tidak dihayati dan direfleksikan secara total, rendahnya dukungan pemerintah terhadap riset atau penelitian ilmu humaniora berupa alokasi dana yang tidak seimbang dibanding dengan ilmu eksak, terlebih bidang teknologi, dll.
     Untuk mencegah semakin tersingkirnya humaniora, maka usaha-usaha yang dapat lakukan adalah sebagai berikut dengan melihat sebab-sebab  di atas:
1.    Memasukkan ilmu humaniora dalam berbagai aktivitas ilmiah, karena sebenarnya peran ilmu humaniora akan menyempurnakan hasil-hasil ilmiah.
2.    Mensosialisasikan kepada masyarakat khusunya para orang tua, bahwa kesuksesan tidak hanya terjadi jika kuliah di bidang eksak saja, tetapi juga dalam bidang ilmu humaniora.
3.    Memotivasi para ilmuan agar tidak menjadi rendah diri bekerja dalam bidang humaniora. 
D.      HUBUNGAN HUMANIORA DENGAN ETIKA
Telah kita ketahui definisi humaniora, yaitu ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika, estetika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama dan fenomenologi. Sedangkan etika adalah ilmu yang mempelajari baik buruk dan benar salah dalam kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan manusia dan lingkungannya. Seperti yang disebutkan di atas, etika itu sendiri masuk ke dalam nilai-nilai kemanusiaan yang dipelajari oleh studi humaniora. Dalam studi humaniora, etika menjadi salah satu unsur penting di dalamnya. Humaniora mempelajari tentang bagaimana manusia bekerja untuk kebaikan, perbaikan demi tercapainya kesejahteraan manusia. Sudah jelas jika dalam bekerja usaha-usaha manusia untuk bekerja untuk kebaikan dan perbaikan yang bertujuan untuk kesejahteraan manusia itu pasti berkaitan dan berhubungan dengan etika yang mempelajari baik buruk dan benar salah dalam kehidupan manusia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa humaniora sangat berkaitan erat dengan etika. Humaniora membutuhkan etika sebagai pedoman dalam mencapai tujuan utamanya yaitu bekerja untuk kebaikan dan perbaikan demi terciptanya kesejahteraan manusia.
Pengetahuan tentang humaniora sangat luas. Tapi bahasan kita dalam kuliah ini terbatas pada bidang kehidupan kita sebagai dokter. Pengetahuan ini harus dapat diterapkan di segala bidang kehidupan Anda kelak sebagai dokter. Bidang yang dimaksud antara lain:
    Praktek kedokteran
    Pelayanan kesehatan
    Pendidikan kedokteran
    Penelitian
Berbicara tentang humaniora, berarti berbicara tentang beberapa aspek yang memiliki pengertian yang saling berkaitan, di antaranya mengenai humanisme, etika, kebudayaan dan perilaku. Humaniora memberikan wadah bagi lahirnya makna intrinsik nilai-nilai humanisme. Humanisme sendiri adalah aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan/mencita-citakan pergaulan yang lebih baik. Ada juga yang berpendapat humanisme sebagai sikap/tingkah laku mengenai perhatian manusia dengan menekankan pada rasa belas kasih serta martabat individu.
Pengertian etika yang dipahami lebih luas di kalangan medis selama ini selalu menjadi jargon seorang dokter. Etika kedokteran dalam kamus kedokteran Stedman dirumuskan sebagai principles of correct professional conduct with regard to the rights of the physician himself, his patients, and his fellow practitioners. Dengan kata lain etika dalam kedokteran merupakan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku profesional yang tepat berkaitan dengan hak dirinya sebagai dokter, hak pasiennya, dan hak teman sejawatnya.
Bila dikaitkan dengan kebudayaan, maka seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dokter adalah suatu profesi yang berhubungan langsung dengan manusia sebagai lawan interaksinya dalam konteks makhluk yang sama berbudaya. Karena itu seorang dokter harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Untuk membangun nilai-nilai sosial itu agar tetap menjadi landasan bagi setiap dokter -terutama sebagai dokter muslim- dalam menjalani kehidupan profesinya yang luas, maka disinilah pengetahuan kebudayaan menjadi konsep dasar dalam membangun jati diri sebagai petugas layanan kesehatan.
Sehubungan dengan itu, penggunaan konsep perilaku di sini berada dalam pengertian ketunggalannya dengan konsep kebudayaan. Perilaku seseorang, sedikit atau banyak, terkait dengan pengetahuan, nilai dan norma dalam lingkungan-lingkungan sosialnya, demikian juga halnya dengan seorang dokter. Untuk proses hulu, lingkungan pendidikan yang baik tentu akan mengantar seseorang untuk berperilaku yang baik pula.
Ilmu kedokteran khususnya kedokteran umum yang menangani manusia jelas sangat paralel dengan pengetahuan budaya yang berkaitan dengan hasil kesadaran manusia. Segala penalaran dokter sebagai manusia akan sama dengan penalaran budi manusia. Ilmu kedokteran yang selalu memikirkan jasmani dan rohani manusia akan selalu dituntut oleh keadaan lingkungan masyarakat. Salah pikir dari seorang dokter berarti akan bertentangan dengan hati nurani manusia yang melekat dalam pribadi sang dokter. Sebaliknya kesuksesan dokter akan selalu menjunjung tinggi dan mengangkat nama harumnya karena segala kesuksesan itu tentu dilandasi oleh budi/pikiran manusia secara sadar. Lantas, bagaimana kaitannya dengan humanisme?
Menurut Profesor U Mia Tu dari Myanmar dalam orasinya tentang humanisme dan etika dalam berbagai bidang kedokteran, terminologi humanisme awalnya dikaitkan dengan pergeseran filosofi dan budaya selama masa renaisans Eropa. Belakangan, maknanya bergeser menjadi sebuah sikap yang berkenaan dengan perhatian manusia pada sesamanya dengan menekankan pada ‘compassion’ -belas kasihan- dan martabat individual.
Secara tidak langsung, humanisme menyatakan suatu penghargaan kepada pasien sebagai seorang individu; menunjukkan belas kasih dan mengerti akan rasa takut dan khawatir dalam diri pasiennya; menyatakan suatu komunikasi yang berarti kepada pasien sebagai seseorang dan  bukannya sebagai sebuah penyakit. Lebih lanjut dia mengatakan, humanisme dalam kedokteran lebih dari sebuah etika. Lebih dari sekedar menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan fisik dan mental pasien karena kelalaian diri. Lebih dari yang sekedar tertulis dalam sumpah Hippocrates. Humanisme merupakan tindakan positif, seperti halnya belas kasihan yang bukan sekedar perasaan prihatin kepada penderitaan orang lain tapi menolong dengan memberi saran atau tindakan yang meringankan penderitaannya. Namun sungguh mengejutkan karena definisi ‘belas kasihan’ tidak masuk dalam dua kamus utama kedokteran – Dorland dan Stedman. Meskipun demikian, rasa belas kasih sama pentingnya dengan pengetahuan ilmiah dan keterampilan pada seorang dokter yang humanistik.
Situasi apa yang menyebabkan sehingga humanisme dan etika mengilhami profesi kedokteran saat ini? Apa yang telah terjadi sehingga menyebabkan banyak dokter-dokter senior menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi profesi kita?
Jika kita mengamati sejenak, akan disadari betapa kita telah jauh menyimpang dari idealisme sebagai dokter. Fenomena ini telah mendunia dan juga telah menyebar ke dalam negara kita. Bukan hanya praktek medis dan perawatan pasien yang menyimpang dari idealisme sosial, bahkan konsep humanisme menjadi sesuatu yang asing dalam pendidikan kedokteran dan dalam bidang penelitian kedokteran. Benar bahwa etika kedokteran termasuk dalam kurikulum pada beberapa sekolah kedokteran, namun diduga hal tersebut hanya sebagai metode resmi untuk  menenangkan hati mereka. Kenyataannya, dibutuhkan lebih dari sekedar memasukkan subjek etika kedokteran ke dalam kurikulum agar lulusan kedokteran menjadikan humanisme dan perilaku etis sebagai sifat kedua mereka.
Seorang dokter bernama Assi Ba’l mengemukakan kerisauannya tentang profesi dokter saat ini. Menurutnya ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut, antara lain:
·        Pemisahan antara jasad dan jiwa
·        Pemisahan antara pencegahan dan pengobatan
·        Penghambaan diri terhadap teknologi modern
·        Berlebihan dalam mengejar spesialisasi
·        Perbedaan dalam tingkat pelayanan kesehatan
Karena tuntutan akan kompetensi profesi yang semakin meningkat, dokter-dokter berlomba dalam menyempurnakan sisi keilmuannya. Kegamangan menghadapi masyarakat yang gemar menggugat, ketakutan melakukan malapraktek, peningkatan kejahatan moral oleh praktisi medis, semua hal-hal tersebut menyebabkan para dokter sangat fokus pada keahlian medis mereka. Mereka menjadi sangat perhatian dalam menangani keluhan fisik pasien, yang penting pasien sembuh dari derita fisiknya. Mereka tidak perlu repot-repot menangani jiwa pasien mereka, yang penting pasien itu belum masuk kategori gila (silakan ke ahli jiwa kalau jiwa anda terganggu).
Untuk urusan pencegahan penyakit, diserahkan dengan hormat kepada teman-teman mereka, ahli kesehatan masyarakat. ”Kami cukup mengobati mereka yang sakit. Kalau ikut-ikutan dalam program pencegahan, bisa-bisa kita dituding mengambil lahan kerja mereka”. Begitu barangkali yang ada dalam benak para dokter. Padahal sangat jelas bahwa para dokter pun diharapkan partisipasi aktifnya dalam program pencegahan penyakit, bahkan mulai pada tahap awal dari five level prevention, yaitu promosi kesehatan.
Perkembangan teknologi dalam dunia kesehatan begitu menggila belakangan ini. Seorang dokter tentu tidak mau ketinggalan dalam bidang teknologi atau akan dicemoohkan oleh masyarakat -yang sudah semakin kritis- tentang jati dirinya sebagai seorang profesional. Tidak ada istilah, dokter tidak mengerti tentang perkembangan jaman, walaupun dokter itu baru saja kembali dari daerah terpencil yang harus didiaminya selama dua-tiga tahun. Teknologi modern adalah suatu keharusan. Salah satu hal yang dapat memfasilitasi kebutuhan itu adalah dengan  bersekolah kembali, dan yang menjadi prioritas tentunya pendidikan spesialisasi. Ikut pendidikan dokter spesialis tentunya akan membuat para dokter akan terus-menerus berhubungan dengan perkembangan teknologi karena pusat pendidikan berada di kota-kota besar. Tentu saja kita tidak dapat menyalahkan dokter yang berniat meneruskan minatnya pada ilmu tertentu. Ditopang oleh kecenderungan masyarakat yang selalu mengandalkan dokter spesialis dan bertindak merujuk dirinya sendiri langsung kepada seorang ahli, serta adanya jaminan income yang lebih menjanjikan, membuat mereka berlomba-lomba meraih gelar tersebut.
Menurut Anda, apakah semua ini tidak cukup membuat seorang dokter merasa terbebani sehingga punya waktu lagi untuk memikirkan perasaan pasiennya? Tidak cukupkah dia dapat menghilangkan keluhan pasien-pasiennya dan meringankan derita fisik mereka? Dan ada apa dengan orang-orang di sekelilingnya, toh mereka mempunyai kehidupan masing-masing yang tidak memerlukan campur tangan batinnya, selama dia tidak merugikan mereka. This is our own life, marilah kita jalani sendiri-sendiri tanpa saling mengganggu. Kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkan kehidupan kita kelak. Ini betul. Tapi apakah memang semuanya harus berjalan demikian? Betulkah semata-mata tangan dingin sang dokter saja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah pasiennya? Mari kita lihat bagaimana humaniora memandang kehidupan seorang dokter.
1. Humanisme dan etika dalam praktek kedokteran
Merawat orang sakit pada level fundamental berakar pada jiwa manusia dan humanisme. Misalnya seorang ibu yang merawat anak atau bayinya yang sedang sakit, kenalan/keluarga sekitarnya menawarkan bantuan berupa saran/nasihat dimanapun diinginkan, sementara seorang wanita tua di antara para warga merespon permintaan bantuan ibu tadi. Mereka semua tidak memiliki motif  yang berkaitan dengan uang dalam memberikan bantuan, tapi dilandasi atas dasar belas kasih.
Pada level yang berbeda, sejak jaman dahulu orang-orang suci, pendeta, tabib dan dukun telah merawat orang-orang sakit karena adanya keyakinan bahwa penyakit adalah manifestasi dari pengaruh iblis yang dilakukan dengan perantaraan tuhan atau makhluk supernatural atau manusia lain. Motif mereka dalam menyembuhkan orang sakit mungkin tidak sepenuhnya untuk kepentingan orang sakit tersebut karena mereka memperoleh keuntungan dalam tatanan sosial atas bantuan tersebut, disamping adanya kekuasaan dan otoritas yang diberikan pada mereka dalam masyarakat.
Saat hal tersebut dikaitkan dengan profesi dokter, kita diyakinkan bahwa masalah sosialnya berakar pada sikap humanisme, belas kasih terhadap penderitaan pasien, dan keinginan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Dokter praktek dan spesialis saat ini memiliki hubungan dokter-pasien ’one-to-one’ yang unik dan sangat pribadi, melibatkan kepatuhan, ketergantungan, dan kepercayaan yang utuh dari pasien terhadap otoritas, pengetahuan dan keterampilan dokternya. Dengan otoritas tersebut terciptalah unsur kewajiban sosial untuk melayani dengan belas kasih kepada mereka yang percaya dan bergantung kepada kita.
Tetapi martabat dan status profesi dokter dulunya tidak setinggi seperti yang kita lihat sekarang. Misalnya pada jaman India kuno, hanya dokter kerajaan yang memiliki status yang tinggi. Dokter pada jaman itu dianggap tidak berdarah murni dan tidak pernah diundang pada acara-acara sesajian untuk dewa-dewa. Kasta Brahmana tidak seharusnya menerima makanan dari seorang dokter karena dianggap najis/kotor (Rao & Radhalaksmi,1960). Pada masa kekaisaran Roma, dokter adalah pekerja berat, orang liar, orang asing, dan pengobatan dianggap sebagai pekerjaan rendah. Di Inggris abad ke-18, dokter bedah dan ahli obat-obatan dianggap seperti pedagang dan termasuk kelas pinggiran. Bahkan sekurangnya di abad 19, dokter di Perancis sangat miskin dan statusnya juga rendah (Starr, 1949).
Namun, dengan perkembangan dan kemajuan ilmu kedokteran dan kemampuan para dokter mempengaruhi perjalanan penyakit secara radikal, bermula di akhir abad ke-19, secara perlahan kedokteran berubah statusnya dari sekedar tukang/pekerja berat menjadi sebuah profesi dan bersamaan dengan itu kekuasaan dan martabat profesi dokter juga meningkat seterusnya hingga di abad 20 ini.
Dengan tercapainya status profesi itu, segala yang menjadi karakter sebuah profesi juga didapatkan. Kedokteran memiliki otonomi, mengontrol semua yang ingin memasuki profesi ini, menetapkan standar kompetensi melalui pelatihan termasuk teori, bukan hanya keterampilan seperti pada pekerjaan tukang. Profesi kedokteran selanjutnya menyusun lembaga profesi struktural (asosiasi, publikasi, sekolah kedokteran yang dapat dikontrol) dan bertujuan memberikan pelayanan yang humanistik kepada masyarakat untuk kepentingan mereka.
Prinsip-prinsip etika telah menjadi bagian yang mendasar sejak masa awal dan berkaitan dengan kewajiban dan tanggung-jawab seorang dokter. Namun harus dicatat, bahwa semua pernyataan tentang etika dapat disesuaikan secara profesional dengan dunia medis. Dan tidak satupun yang berkenaan dengan aspek humanistik.
Pola praktek dokter pada awal abad delapanbelas bersifat ‘biaya pelayanan tunggal’ yaitu seorang dokter memberikan pelayanan medis dan untuk itu dia dibayar, baik berupa uang maupun berupa hasil-hasil pertanian seperti yang masih terdapat di negara-negara berkembang di beberapa daerah dan desa yang miskin. Ini adalah masa dokter pedesaan atau dokter ‘kuno’ atau dokter keluarga yang mengetahui dengan baik keluarga tersebut, berkeliling ke rumah-rumah, dan bertindak sebagai ‘teman dan penuntun yang dapat dipercaya’, di samping merawat orang-orang sakit dalam keluarga itu.
Perkembangan kota-kota besar dan rumah-rumah sakit di abad 18 dan 19 membuat dokter-dokter desa perlahan menghilang dan semakin banyak dokter menetap di daerah kota untuk berpraktek. Hilangnya dokter pedesaan atau dokter keluarga memulai timbulnya ‘pelayanan dehumanisasi’ di rumah-rumah sakit.
Dalam dekade terakhir abad 20, pola praktek di negara-negara industri berubah sama sekali dengan ekonomi berorientasi pasar. Dari praktek mandiri, sekarang kebanyakan dokter praktek berkelompok di bawah persetujuan formal penggunaan fasilitas dan peralatan medis bersama-sama dan pendapatan didistrubusikan sesuai perjanjian awal dengan melibatkan personalia kesehatan.
Kalangan bisnis melihat pasar besar dalam lapangan kesehatan, hasilnya adalah meningkatnya komersialisasi layanan medis dan bertumbuhnya industri medis yang kompleks. Kedokteran tidak lagi merupakan industri rakyat seperti saat dokter berpraktek mandiri. Manager di bidang kesehatan ini – ekonom dan CEO (pejabat eksekutif), yang semakin sering memutuskan jenis praktek pelayanan dan jenis organisasi dibandingkan para dokter. Harga-harga obat melambung dan penggunaan peralatan medis yang canggih berkonsekuensi dengan pembayaran yang tinggi. Telah dikatakan, semakin dokter bergantung pada teknologi semata, semakin mereka kehilangan rasa kemanusiaannya, yang berujung pada ‘pelayanan dehumanisasi’. Hal tersebut ditambah dengan ketakutan akan tuntutan malapraktek, dokter membayar asuransi untuk dirinya, yang tentu berdampak pada pasien sehingga biaya layanan kesehatan semakin tinggi.
Perubahan ini mewarnai sikap dan tingkah laku profesi yang menekankan pada aspek finansial dan teknologi dalam terapi dan merusak panggilan altruistik dan humanistik sang dokter.
Lagi menurut Profesor Tu, seorang dokter di Myanmar menelaah sebuah film bergenre kedokteran, berjudul “Patch Adam”. Dia tertarik pada kritik sang pemain, yang berperan sebagai dr. Hunter Adam:  “Anda bahkan tidak melihat kepada pasien saat Anda berbicara pada mereka” dan saat dia berbicara melawan Badan Medis: “Kematian bukanlah musuh, saudara-saudara, tapi sebuah kelalaian. Anda menangani penyakit, hasilnya kalah atau menang. Anda menangani pasien, anda akan menang bagaimanapun hasil akhirnya”.
Keadaan ini pun sudah terlihat di negara kita. Ada berapa banyak dokter yang betul-betul menangani pasiennya dengan rasa belas kasih? Saya tidak menyatakan bahwa tidak ada dokter yang memiliki rasa belas kasih karena saya mengenal beberapa dokter yang betul-betul menangani pasiennya dengan hati.
Tapi, pemandangan seperti itu sangat jarang kita rasakan. Banyak dokter melayani pasiennya dengan senyum, ramah, sopan dan penuh tatakrama, tapi yang kita bicarakan dalam kaitannya dengan humanisme adalah dokter melayani pasiennya dengan melihat ke dalam perasaan pasiennya. Menampakkan pengertian akan derita pasiennya dan tidak semata-mata memburu apa yang menjadi diagnosis agar pengobatannya tepat dan pasien ini segera menyingkir dari kehidupannya yang cukup sibuk.
Anda keliru jika menyangka pasien tidak membutuhkan sentuhan
humanisme, dan tepat jika menduga bahwa mereka akan lebih nyaman dengan dokter yang menatap mereka saat melakukan anamnesis dan memperlihatkan sikap menerima dan mengerti akan segala keluhannya. Itu tidak sulit dilakukan. Tempatkan saja diri Anda pada posisi mereka. Lalu nilai, situasi mana yang lebih Anda sukai, ditangani oleh dokter yang berwajah dingin yang sibuk meneliti penyakit Anda atau oleh dokter yang menunjukkan perasaan kasih akan tiap keluhan Anda.             
2. Humanisme dan etika dalam pelayanan kesehatan
Sejak jaman dulu, pemegang kekuasaan bertanggung-jawab terhadap kesehatan rakyatnya. Raja pada jaman Indis kuno membangun tempat untuk orang-orang sakit dan cacat, bahkan tempat khusus semacam rumah sakit untuk kebidanan dan bedah. Kerajaan Romawi mengatur tempat layanan kesehatan untuk orang-orang miskin yang akan dikunjungi oleh dokter-dokter umum untuk memberikan pemeriksaan kesehatan yang dibutuhkan.
Pada saat Abad Kegelapan baru saja terangkat dari Eropa, kedokteran di negara-negara Arab sangat berkembang. Terdapat rumah-rumah sakit yang besar di Damascus, Kordoba, dan Kairo yang memperhatikan segala aspek dari layanan kesehatan termasuk aspek humanistik seperti sisi spiritualnya (memperdengarkan Al-Quran sepanjang saat tanpa henti), aspek-aspek estetika (seperti memainkan musik lembut di malam hari untuk membantu mereka yang sulit tidur), dan aspek-aspek yang dapat meningkatkan semangat mereka (seperti membacakan kisah-kisah yang menggugah jiwa pasien). Bahkan pasien diberikan sejumlah uang yang dapat menutupi kekurangan semasa sakit, hingga mereka mampu kembali bekerja (Guthrie, 1958). Ini adalah pendekatan yang betul-betul manusiawi.
Pelayanan kesehatan di Eropa, khususnya Inggris relatif terlambat. Butuh terjadinya suatu epidemi (kolera) untuk terbentuknya Badan Kesehatan sebagai badan resmi walaupun sebelumnya negara telah megambil alih langkah darurat jika terjadi penyakit epidemik. Perkembangan spektakuler di dunia medis pada masa-masa setelahnya mengubah pola tingkah dokter dan pelayanan kesehatan. Teknologi tersebut membutuhkan biaya yang mahal sehingga tidak mampu digapai oleh masyarakat miskin. Ditambah lagi dengan dokter-dokter yang terlatih di rumah sakit yang sangat sedikit dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi masalah kesehatan dalam masyarakat dan perkembangan baru dalam pelayanan kesehatan. Sekarang ini, dikembangkan filosofi baru mengenai pelayanan kesehatan berbasis persamaan dan keadilan sosial yang berakhir pada gerakan Pelayanan Kesehatan Primer dan Kesehatan untuk Semua (World Health Organisation, 1981)
Seperti telah disebutkan sebelumnya, dalam era pasar ekonomi, kedokteran telah menjadi bisnis besar hingga di negara-negara berkembang. Karena bisnis bersifat mengejar keuntungan, biaya pelayanan kesehatan akhirnya meningkat. Dan akibatnya pelayanan terhadap masyarakat miskin terabaikan. Idealnya, dokter mampu melakukan praktek hingga menyentuh seluruh lapisan masyarakat, agar nilai-nilai humanisme tetap terjaga. Tentu, secara pribadi hal tersebut sulit dilaksanakan. Tapi, jika penentu kebijakan terutama dalam bidang kesehatan memperhatikan masalah ini dan berangkat dengan keikhlasan untuk berbuat demi kemanusiaan, maka teknologi yang tercanggih sekalipun dapat dimanfaatkan oleh masyarakat banyak.
         3. Humaniora dan etika dalam pendidikan kedokteran
Lantas, apa yang bisa menjadikan seorang dokter memiliki kemampuan teknis sekaligus sikap humanistik dalam perilaku profesinya? Apakah itu bagian dari pelatihan dan pendidikan mahasiswa kedokteran dengan melihat contoh dari para dosennya? Mari kita lihat bagaimana humanisme dalam pendidikan kedokteran.
Baik di dunia barat maupun dalam budaya timur, pelatihan untuk menjadi seorang dokter bermula dari sistem magang, yaitu suatu sistem pelatihan yang bersifat desentralisasi di mana murid dan gurunya terikat dalam suatu hubungan pribadi. Sejak jaman dulu, murid kedokteran di India misalnya, tinggal di rumah gurunya dan bahkan menjadi anggota keluarga yang ikut mengerjakan segala pekerjaan rumah sang guru. Karena kontak yang sangat dekat dengan gurunya, seorang murid tidak hanya belajar dari guru, tapi menyerap filosofi, sikap, tingkah laku moral, nilai-nilai dan metode hidupnya serta cara guru menghadapi pasiennya, singkatnya ‘bedside manner’ sang guru tadi.
Karena kebutuhan akan dokter dan ahli bedah semakin meningkat, perubahan sistem pelatihan mengalami perubahan. Kerajaan Romawi mengambil alih pelatihan dokter dengan menunjuk guru-gurunya. Di negara-negara Islam, pendidikan kedokteran telah berjalan dengan baik. Mereka ditempatkan di rumah sakit untuk pendidikan kedokteran. Warga yang kaya membangun rumah-rumah sakit yang mempekerjakan dokter-dokter handal yang bertanggung-jawab dalam penanganan pasien sekaligus mengajar murid-murid kedokteran.
Sekolah-sekolah kedokteran di Eropa pada abad 9 hingga 13  menjadikan pendidikan kedokteran sebagai basis dan memberikan gelar dokter setelah melalui suatu pendidikan dan ujian tertentu. Fakultas kedokteran ini tidak hanya melatih para dokter tetapi juga mengontrol tindakan mereka. Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang dilatih di rumah sakit, keadaan pasien yang sebenarnya terabaikan. Metode pengajaran klinis dengan jumlah mahasiswa yang besar berdampak buruk pada pasien. Dan metode ini diadaptasi oleh semua sentra pendidikan kedokteran di dunia.
Sekarang kita mungkin dapat melihatnya di rumah-rumah sakit, beberapa pasien mengeluh jika terlalu banyak disentuh oleh mahasiswa (ko-ass). Mereka menghindar untuk dirawat di rumah sakit pendidikan karena merasa dijadikan orang coba oleh para ko-ass, terurama pasien-pasien dari golongan menengah ke atas. Sebetulnya keadaan ini dapat kita hindari bersama. Pasien tentu tidak akan mengeluh jika tidak merasa dirinya hanya dijadikan objek pembelajaran. Caranya tentu dengan menanamkan kepercayaan kepada pasien dan masyarakat umumnya. Dan itu dapat dimulai dari Anda, sebagai calon dokter.
Sebagai mahasiswa, Anda harus betul-betul memahami semua yang Anda pelajari selama proses pendidikan dan menguasai seluruh kompetensi yang sudah ditetapkan. Jika kelak Anda dipercayakan untuk memegang pasien pada saat kepanitraan klinik dan dapat menunjukkan bahwa sebagai mahasiswa kedokteran Anda cukup handal, maka pasien akan dengan senang hati mempercayakan penanganan penyakitnya pada Anda . Apalagi jika dibarengi dengan tindakan yang etis dan penuh sentuhan manusiawi, tidak akan ada pasien yang menolak Anda. Kita harus benar-benar tulus menghadapi mereka, mendengar keluhan mereka dengan sabar, memperhatikan apa yang menjadi persoalan sesungguhnya bagi mereka. Ingatlah pepatah bijak orang tua kita bahwa apa yang dilakukan dari hati sampainya ke hati juga.
 Dengan begitu, Anda dapat melalui proses pendidikan kedokteran dengan baik karena sebenarnyalah hubungan yang terjadi antara Anda dengan pasien tadi adalah hubungan kerjasama. Anda, sebagai mahasiswa, membutuhkan mereka. Maka buatlah mereka pun membutuhkan Anda.
Dalam pendidikan tentang bioetik dan humaniora ini, Anda akan banyak dibekali  dengan pengetahuan tentang etika terutama saat Anda telah menjadi dokter. Namun sebenarnya, prinsip-prinsip etika telah tertuang secara lengkap dalam Islam, yaitu dalam ilmu tentang akhlak. Bahkan ilmu ini tidak terbatas kepada profesi dokter saja, tapi memayungi semua insan yang mengaku sebagai muslim. Jadi, saat sekarang pun prinsip-prinsip etika sudah harus kita jalankan karena akhlak -yang sumbernya jelas dari Allah SWT- berimplikasi pada akhirat yang mengikat muslim yang berakal dan dewasa, yaitu kita semua.
Selama masa pendidikan, Anda akan berhubungan dengan dosen, sesama mahasiswa, pegawai di lingkungan Anda, dan orang-orang dalam lingkungan kampus. Sekarang ini adalah masa yang tepat bagi Anda untuk melatih diri bagaimana bersikap menjadi dokter yang baik.
Selama masa pendidikan, Anda akan berhubungan dengan dosen, sesama mahasiswa, pegawai di lingkungan Anda, dan orang-orang dalam lingkungan kampus. Sekarang ini adalah masa yang tepat bagi Anda untuk melatih diri bagaimana bersikap menjadi dokter yang baik. Betul bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda, tapi sikap dan perilaku yang baik bukannya tidak dapat diamalkan. Sebagai contoh, dalam berdiskusi dengan teman-teman Anda, seringkali terjadi benturan pendapat. Walaupun Anda yakin bahwa pendapat Andalah yang benar, dan didukung oleh beberapa teman yang lain, sangat tidak bijak jika Anda langsung menyalahkan dan mematahkan pendapat teman Anda. Apalagi jika yang Anda serang adalah pribadinya, bukan opininya.
Belum lagi jika menghadapi persoalan yang berbeda, adanya beban tugas dari dosen yang tidak habis-habis (walaupun alasan bahwa hal tersebut untuk kepentingan mahasiswa sendiri kadang sulit diterima), dan waktu yang terasa sangat menghimpit, tentu akan sulit bagi kita untuk tetap bersikap stabil. Masalahnya, kita tidak punya pilihan selain menghadapinya. Kita menerima pengakuan sebagai pribadi dewasa, jadi sudah seharusnya kita menyadari konsekuensi dari suatu pilihan. Anda memilih untuk menjadi dokter, berarti sedikit banyaknya Anda tahu seperti apa profesi ini.
Dari segi keterampilan, kompetensi yang dikehendaki dijelaskan oleh masing-masing sub divisi pendidikan kedokteran. Dengan sistem integrasi yang baru diterapkan, Anda diharapkan memiliki keterampiln klinis yang lebih terarah. Keaktifan dari Anda sebagai mahasiswa diharapkan karena pembelajaran ini memang dipusatkan pada Anda (student-centered learning). Para pendidik di bidang kedokteran sepakat bahwa tujuan pembelajaran yang baru ini adalah mengarahkan pendidikan kedokteran  kepada pengalaman berbasis komunitas, model yang berpusat pada pembelajar sehingga memungkinkan dokter untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus berpraktek dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan yang memasukkan aspek-aspek psikososial dan biologi dalam pelayanan kesehatan.
         4. Humanisme dan etika dalam penelitian dan pengembangan ilmu kedokteran
Kesadaran sosial, tanggung jawab sosial dan akuntabilitas sosial telah menjadi ciri profesi dokter, dan karakteristik ini dapat diterapkan juga kepada para peneliti di bidang kedokteran. Etika dan humanisme dapat diaplikasikan ke dalam seluruh spektrum kegiatan penelitian, mulai dari pemilihan topik penelitian, hingga pada cara penelitian yang dilakukan dan pada aplikasi hasil penelitian dan pengembangan.
Misalnya dalam memilih topik penelitian, harus disadari bahwa peneliti memiliki tanggung jawab sosial untuk mencoba mencari solusi dari masalah-masalah yang paling banyak menyebabkan munculnya penyakit dan penderitaan dalam masyarakat.
Dalam melakukan percobaan yang melibatkan manusia sebagai relawan, peneliti haruslah dibawah kontrol etis yang ketat. Dan seperti halnya seorang dokter harus memiliki perilaku medis yang baik dengan hubungan manusiawi dengan pasiennya, begitu juga seharusnya seorang peneliti.
Tanggung jawab dan akuntabilitas sosial dalam penelitian dimaksudkan agar penelitian tersebut dilakukan bukan hanya untuk kepentingannya saja. Peneliti diwajibkan melihat kegunaan hasil penelitiannya. Jadi hasilnya tidak hanya berakhir di kertas jurnal saja, tapi harus mencapai ke penentu kebijakan, pembuat keputusan dalam pelayanan kesehatan, dan para profesi di bidang kesehatan serta para konsumen


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 8:30:00 AM

0 komentar:

Post a Comment